Paroki Santo Yohanes Maria Vianey Halong

BERDOA DENGAN RENDAH HATI DAN TEKUN

BERDOA DENGAN RENDAH HATI DAN TEKUN

Renungan Hari Minggu Biasa XVII
Minggu, 24 Juli 2022


RD. Novly Masriat

Salah satu pengalaman religius yang penting dalam kehidupan orang Kristen adalah doa. Doa sebagai pandangan ke surga atau mengarahkan hati ke hadiran Tuhan, ungkapan syukur, cinta kasih, dan permohonan ke pada Tuhan (cf. KGK, art. 2558-2559). Doa memiliki khasiat tetentu. Setiap orang pasti memiliki pengalaman religius tentang maanfaat doa itu.

Salah syarat kekudusan adalah doa. Kekudusan bisa tercipta karena doa (GE, art. 147). Selain itu, dengan doa, Tuhan akan tetap tinggal dalam diri kita walaupun kita sibuk dengan berbagai kegiatan,. Tuhan akan tetap di hati kita, bila kita berdoa atau menyediakan waktu hening untuk berkomunikasi dengan Tuhan (GE, art. 148-149).
Yesus, melalui injil hari ini menegaskan salah satu hal penting tentang doa, yaitu rendah hati dalam berdoa. Aspek kerendahan hati dalam berdoa nampak dalam ajakan Yesus untuk menyebut Tuhan sebagai Bapa. Menyebut Tuhan sebagai Bapa mengandaikan bahwa kita yang berdoa adalah anak. Menyebut Bapa untuk Tuhan berarti menunjukkan bahwa kita adalah anak-anak, yang masih perlu banyak menggantungkan diri kepada Tuhan sebagai orang tua kita. Tuhan itu Bapa berarti kita ini hanyalah anak-anak yang kecil di hadapan Tuhan yang memerlukan banyak bantuan dari Tuhan.
Aspek kerendahan hati juga nampak dalam nasehat Yesus tentang permohonan-permohnan dalam doa. Yesus mengajak para murid supaya jika berdoa, selain bersyukur, para murid perlu menyampaikan permohonan, misalnya memohon supaya kerajaan Allah hadir, memohon rejeki, pengampunan dosa, terhindar dari godaan. Dengan memohon, Yesus mengajarkan supaya kita menyadari diri sebagai orang yang lemah dan butuh bantuan kuasa yang lebih tinggi, serta mengungkapkan kepercayaan kita kepada Tuhan. Kesadaran akan hal ini justru bisa terjadi bila orang rendah hati. Kerendahan hati dalam doa menghantar kita untuk terbuka bagi kehendak Tuhan yang didahulukan. Ketika kita rendah hati, maka kita membiarkan kehendak Tuhan yang terjadi, bukan diri sendiri. Rendah hati membantu kita untuk mengarahkan doa-doa kita kepada hal-hal yang berkenan kepada Tuhan. Kesombongan akan menghambat munculnya kerelaan untuk memohon.
Aspek lain yang Yesus hendak katakan adalah berdoa terus menerus. Yesus katakan, “Mintalah, maka kamu akan diberi; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta akan menerima, setiap orang yang mencari akan mendapat, dan setiap orang yang mengetuk akan dibukakan pintu” (Luk 11:9). Memohon sesuatu dalam doa tidak hanya sekali, tetapi terus menerus. Berdoa seharusnya menjadi “kebutuhan” sehari-hari. Seperti makanan yang kita perlu sanpta setiap hari, doa seharusnya juga menjadi kebutuhan harian untuk kepentingan santapan rohani kita. Konsistensi dan Ketekunan yang tulus dalam berdoa membuka rahmat Tuhan bagi kita. Secara tulus dan konsisten kita berdoa dengan tekun pasti mengetuk pintu hati Tuhan. Tuhan itu adalah bapa atau orang tua kita, maka orang tua tidak akan melupakan anak-anaknya. Paus Fransiskus dalam general audience (Rabu, 9 Januari 2019) berkata bahwa Tuhan tetap akan menjawab doa-doa kita. Waktunya kapan, kita tidak tahu, tetapi Tuhan tetap akan mendengarkan doa-doa kita, asalkan kita tidak menyerah. Waktu Tuhan berbeda dengan waktu manusia. Tuhan menjawab doa-doa kita sesuai dengan waktu dan kehendaknya.

Bagikan...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *