Paroki Santo Yohanes Maria Vianey Halong

TUHAN MENAWARKAN KESELAMATAN KEPADA SEMUA ORANG

TUHAN MENAWARKAN KESELAMATAN KEPADA SEMUA ORANG

(Yes. 25:6-10a; Flp. 4:12-14,19-20; Mat. 22:1-14)

HM Biasa XXVIII

Minggu, 15 Oktober 2023

RD. Novly Masriat

Injil hari ini menceritakan perempuaan kerajaan surga bagaikan seorang raja yang menyelenggarakan perjamuan nikah bagi anaknya.

Raja mengutus hamba-hambanya untuk memanggil para undangan untuk hadir dalam pesta ini, tetapi para undangan tidak hadir. Mereka justru membunuh hamba-hamba raja. Raja dalam perumpamaan ini menunjuk pada Tuhan sendiri. perjamuan nikah menunjuk pada keselamatan dari Tuhan. Para hamba raja adalah para utusan Tuhan dan termasuk Yesus sendiri. Para utusan Tuhan hadir untuk mewartakan keselamatan dari Allah, dan Yesus sendiri yang adalah Tuhan juga hadir untuk mewartakan kabar sukacita, tetapi tidak diterima oleh “para undangan” atau umat manusia, terutama mereka yang sudah diundang secara khusus atau mereka yang sangat diharapkan hadir dalam undangan. Orang-orang khusus ini atau yang sangat diharapkan hadir ini menunjuk pada orang-orang beriman. Hanya saja, orang-orang beriman acuh terhadap keselamatan ini. Keselamatan sebenarnya sudah di depan mata bagi orang-orang ini, tetapi mereka menolaknya.

Sikap acuh ini adalah bentuk dari sikap apatis dan masa bodoh. Sikap ini menunjukkan ketidakpekaan terhadap kondisi sosial, emosional, dan fisik. Sikap acuh ini juga adalah bentuk ketumpulan moral. Seseorang yang memiliki ketumpulan moral akan menyulitkan orang itu untuk menilai atau menentukan pilihan-pilihan moral. Orang-orang yang cuek terhadap undangan Tuhan adalah contoh orang-orang apatis yang tidak memiliki kepekaan. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang sombong, dan hanya fokus pada diri sendiri (dengan hanya melihat kepentingan diri sendiri). Orang yang fokus pada diri sendiri (kepentingan diri sendiri) terjebak dalam narsisme atau pandangan yang melihat diri sendiri lebih tinggi atau lebih penting, sulit percaya pada orang lain, dan kurang empati pada orang lain.

Sebenarnya Tuhan memanggil siapa saja untuk hadir dalam perjamuan. Semua orang mendapat kesempatan untuk menerima rahmat.  Sikap cuek dan menolkan rahmat Tuhan memiliki konsekuensi. Menolak Tuhan sama dengan dengan menolak keselamatan. Menolak undangan Tuhan berarti menolak rahmat keselamatan. Rahmat itu akan bekerja lebih nyata dalam orang-orang yang mau menerima panggilan Tuhan. Karena ada orang yang menolak undangan Tuhan, maka Tuhan menawarkan rahmat itu kepada orang lain yang sungguh-sungguh mau menerima undangan itu. Maka, bisa saja ada orang yang belum sukses, bahagia, damai, sukacita, karena masih cuek terhadap rahmat Tuhan. Keselamatan sudah disediakan, tetapi justru kita sendiri yang menolak keselamatan itu. Kebaikan selalu ada, tetapi kita sendiri yang merasa tidak perlu terhadap kebaikan itu.

Selain itu, Tuhan menghendaki agar penerimaan terhadap rahmat itu juga harus disertai dengan kepantasan diri. Kelayakan diri menjadi syarat penting bagi karya keselamatan Tuhan. Injil menyebutkan bahwa seseorang sudah menerima undangan Tuhan, tetapi dia tidak hadir dengan pakaian pesta yang layak. Tuhan marah dengan orang ini. Perumpamaan ini hendak menegaskan sebuah kepantasan diri yang sungguh-sungguh di hadapan Tuhan. Kita semua beragama dan beriman kepada Tuhan, tetapi Tuhan menghendaki agar kita tampil pantas di hadapan Tuhan. Kepantasan diri tentu bukan hanya pada hal-hal fisik, tetapi terutama pada hati kita. Tuhan tidak menghendaki agar kita beriman setengah-setengah. Ini menjadi kritik bagi kita yang sering menjadi orang beriman yang tidak serius dan hanya mau beriman biasa-biasa saja. Kita semua diundang ke dalam perjamuan Tuhan, maka hadirlah dalam perjamuan Tuhan itu dengan diri yang pantas dan layak.

Hari ini kita merayakan 30 tahun Katekismus Gereja Katolik (KGK). Pada tahun 1992 gereja Katolik mengeluarkan KGK. Ini adalah dokumen gereja bersumber dari Kitab Suci, tradisi, dan magisterium gereja yang memberikan pengajaran tentang kepercayaan (Syahadat Para Rasul), perayaan (Liturgi), kehidupan dan doa Gereja (Moralitas dan Doa Bapa Kami). Selain memberikan ajaran, KGK ini juga menjadi pedoman pastoral bagi umat beriman. Pada perayaan 30 tahun KGK ini, umat beriman dipanggil untuk mengenal ajaran-ajaran gereja dan mewartakannya kepada setiap orang.

Bagikan...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *