Paroki Santo Yohanes Maria Vianey Halong

BELAJAR UNTUK MENDENGAR

BELAJAR UNTUK MENDENGAR

(2Sam. 7:1-5,8b-12,14a,16; Rm. 16:25-27; Luk. 1:26-38)

HM Adven IV

Minggu, 24 Desember 2023

Sebentar lagi kita akan merayakan pesta Natal. Yesus, juru selamat dunia, akan segera lahir ke dunia.

Peristiwa kelahiran ini adalah rencana dan kehendak Tuhan, bukan kehendak manusia. Tuhan memiliki St. Maria untuk mengandung dan melahirkan Yesus. Ketika menerima kabar dari Malaikat Gabriel bahwa Tuhan memilihnya, dia mengambil sikap mendengar dan taat pada kehendak Tuhan. Maria mendengar pesan Tuhan bukan pertama-tama dengan telinga, tetapi dengan segenap hatinya, keterbukaan penuh menyampaikan gejolak batinnya. Maria tidak sekedar membuka telinganya terhadap pesan Tuhan, tetapi juga membuka hatinya dan mencerna dengan baik pesan Tuhan. Dia memahami kehendak Tuhan.

Supaya bisa mendengar atau memahami dengan baik pesan Tuhan, maka kita membutuhkan ketenangan. Paus Fransiskus, dalam nasehatnya kepada kuria Romana, pada 21 Desember 2023 berkata, bahwa mendengarkan orang sungguh-sungguh membutuhkan ketenangan batin dan memberi ruang pada keheningan. Setiap perkataan orang lain perlu direnungkan dan direfleksikan dalam sebuah ketenangan dan keheningan batinia barulah ditanggapi. St. Maria mendengar pesan Tuhan, dan “bertanya” (merenungkannya) dalam hati, barulah menanggapi pesan Tuhan itu. Selain itu, Paus Fransiskus katakan, bahwa doa mampu mengajarkan kita untuk mendengar dengan tenang dan hening. Berdoa bukan sekedar berlutut saja, tetapi juga membiarkan hati untuk tenang dan berefleksi tentang kehendak Tuhan.

Kadang kala banyak orang lebih suka berbicara daripada mendengar. Kadang kala orang sulit untuk mendengarkan tetapi cenderung menguasai pembicaraan. Kadang kala sangat sulit untuk mendengar atau memahami satu terhadap yang lain. Banyak orang yang terlalu sibuk berbicara, dan tidak mau saling mendenar satu sama lain, maka persoalan tidak selesai. Konflik tetap berjalan dan kesalahpahaman tetap terjadi dalam sebuah relasi karena orang-orang yang di dalamnya tidak mau saling mendengar dan memahami.

St. Maria adalah salah satu contoh orang kudus yang mau mendengar atau memahami dengan baik, terutama pesan-pesan Tuhan. Dalam hati yang tenang dia merenungkan (memahami) dengan seksama setiap pesan Tuhan, dan sesudah itu dia memutuskan untuk taat dan setia kepada perintah Tuhan. St. Maria bisa sampai pada keputusan final untuk taat kepada kehendak Tuhan karena dia membiarkan hatinya untuk terbuka dan memahami (“mendengar”) pesan Tuhan.

Mari kita saling mendengarkan dan memahami satu terhadap yang lain. Terlalu banyak berbicara akan mengganggu ketenangan batiniah dan suasana hening untuk mendengar dan memahami orang lain. Kemampuan untuk bisa mendengar atau memahami datang dari kerendahan hati. St. Maria rendah hati, maka bisa mendengar dengan baik karena dia rendah hati, tidak sombong. Ketika tidak ada kerendah hati hati, maka tidak ada ruang untuk saling memahami dalam suatu relasi, baik dengan sesama dan dengan Tuhan.

Orang yang mendengar dengan baik adalah orang yang taat dan setia. Oleh sebab itu, kita tidak hanya bersikap mendengarkan, tetapi sesudah mendengarkan kita perlu melakukan sebuah tindakan konkret. St. Maria, sesudah dia mendengarkan, dia taat melaksanakan perintah Tuhan. Sesudah kita mendengar dan memahami kehendak Tuhan, maka kita harus taat melaksanakan kehendak itu, bukan hanya mendengar dan tetap tinggal di tempat. Kadang kala memang terjadi bahwa orang hanya bersikap “dengar” dan tidak pernah melaksanakan aksi tertentu sebagai kelanjutan dari sikap mendengar. Untuk itu, mari sesudah kita mendangar dan memahami kehendak Tuhan, kita setia melaksanakan kehendak-Nya. Amin. novlymasriat.

Bagikan...